Rasulullah saw. Mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Alquran, beliau memerintahkan kepada mereka untuk menulisnya dalam rangka memeperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah Azza Wa Jalla, sehingga penulisan tersebut dapat memudahkan penghapalan dan memperkuat daya ingat.
Setiap kali beliau menerima wahyu dari Allah. Setelah beliau secara langsung mengingat dan menghapalnya, beliau menyampaikannya kepada para sahabatnya, lalu sahabat menyampaikannya secara berantai kepada sahabat lainnya. Demikanlah seterusnya. Sebagian sahabat itu selain langsung menghapalnya, juga mencatatnya dalam berbagai benda yang ditemuinya, seperti pelapah korma atau tulang belulang binatang. Catatan tersebut bukan untuk orang lain tetapi untuk koleksi pribadi.
Kitab Alquran mencakup surat-surat panjang dan yang terpendek terdiri dari tiga ayat, sedengkan yang paling panjang 286 ayat. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad memberi instruksi kepada para penulis tentang letak ayat pada setiap surat. Usman menjelaskan baik wahyu itu mencakup ayat panjang ataupun pendek, Nabi Muhammad selalu memanggil penulisnya dan berkata; Letakkan ayat–ayat tersebut ke dalam surat seperti yang beliau sebut. Zaid bin Tsabit menegaskan kami akan kumpulkan Alquran di depan Nabi Muhammad . Menurut Uthman bin Abi Al’as, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad memberi perintah akan penempatan ayat tertentu.
Para penulis wahyu adalah sahabat pilihan Rasul dari kalangan sahabat yang terbaik dan indah tulisannya sehingga mereka benar-benar dapat mengemban tugas yang mulia ini. Di antara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin, dan sahabat-sahabat lain.
Beliau menyuruh mereka mencatat setiap wahyu yang turun, sehingga Alquran yang terhimpun dalam dada mereka menjadi kenyataan tertulis. Di samping itu sebagian sahabat pun menulis Alquran yang turun itu atas kemauan sendiri, tanpa diperintah oleh Nabi. Mereka menuliskannya pada pelepah korma, lempengan batu, kulit atau daun kayu , pelana, potongan tulang-tulang binatang dan sebagainya. Hal itu karena belum ada pabrik kertas di kalangan orang Arab. Pada saat itu pabrik kertas hanya terdapat di Parsi dan Romawi. Itu pun masih sangat kurang dan tidak disebarkan. Itulah sebabnya, orang-orang Arab menulisnya sesuai dengan perlengkapan yang dimiliki dan dapat dipergunakan untuk menulis. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit r.a. bahwa ia berkata, “Kami menulis Alquran di hadapan Nabi pada kulit ternak”. Maksudnya adalah mengumpulkannya agar sesuai dengan petunjuk Nabi saw. dan menurut perintah dari Allah swt. Para ulama sepakat bahwa pengumpulan Alquran adalah tauqifi (menurut ketentuan) artinya susunannya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini. Telah disebutkan bahwa Jibril a.s. bila membawakan sebuah atau beberapa ayat kepada Nabi, ia mengatakan, “Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk menempatkannya pada urutan kesekian surat anu…” Demikian pula halnya Rasul memerintahkan kepada para sahabat, “Letakkanlah pada urutan ini.”
jadi jelaslah walau pun turunya sepotong- sepotong. Alloh SWT. menuntun nabi SAW. untuk menyusun urutan potongan ayat menjadi satu surat. yang enak dibaca dan didengar.
smoga jawaban ini berkenan dihati pembaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar