Minggu, 03 Mei 2020

Bagaimana caranya agar merasa selalu dilihat oleh Allah?

saya coba jawab yaa
banyak caranya… salah satunya memahami ayat ini…
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Arab-Latin:
Wa iżā sa`alaka 'ibādī 'annī fa innī qarīb, ujību da'watad-dā'i iżā da'āni falyastajībụ lī walyu`minụ bī la'allahum yarsyudụn
Terjemah Arti:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 186
Apabila engkau -wahai Nabi- ditanya oleh hamba-hamba-Ku tentang kedekatan-Ku dan kesediaan-Ku mengabulkan doa mereka, maka sesungguhnya Aku ini dekat dengan mereka, mengetahui keadaan mereka, dan mendengar doa mereka. Jadi, mereka tidak membutuhkan perantara dan tidak perlu bersuara keras. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku dengan tulus ikhlas di dalam doanya. Maka hendaklah mereka tunduk dan patuh kepada perintah-perintah-Ku serta mempertahankan iman mereka. Karena hal itu merupakan sarana yang paling ampuh bagi terkabulnya doa mereka. Mudah-mudahan dengan begitu mereka mau mengikuti jalan yang benar dalam semua urusan mereka, baik urusan agama maupun dunia.
bila sudah memahami maka akan terbentuk sikap yg merasa allah itu dekat dan mengawasi gerak gerik kita. atau disebut murâqabah.
Murâqabah ini merupakan hasil dari pengetahuan seseorang yang dengannya dia meyakini bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengawasi, melihat, mendengar dan mengetahui semua sepak terjangnya setiap saat, setiap tarikan nafas dan setiap kejapan mata
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ
Dan ketahuilah sesungguhnya Allâh Maha mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dirimu, maka berhati-hatilah. [Al-Baqarah/2:235]
Al-Hâfizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,
bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengancam para laki-laki yang mempunyai maksud buruk dalam urusan wanita. Sebaliknya Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan petunjuk agar yang disembunyikan di dalam hati hanyalah kebaikan dan bukan keburukan.
Meskipun itu terkait dengan para laki-laki terhadap wanita yang ditinggal mati suami, tetapi secara umum memang demikianlah, Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha mengetahui semua apa yang disembunyikan di dalam hati.
Hal ini menuntut setiap orang untuk selalu merasa dilihat dan diawasi oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Begitu pula ayat-ayat berikutnya, menunjukkan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha mengetahui semua perbuatan manusia, sekalipun disembunyikan di dalam hatinya.
Yaitu firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا
Dan Allâh Maha mengawasi segala sesuatu. [Al-Ahzâb/33:52]
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Allâh menyertai kalian dimanapun kalian berada.[Al-Hadîd/57:4]
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
Tidak tahukah ia (Abu lahab) bahwa Allâh melihatnya. [Al-‘Alaq/96:14]
فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
Sesungguhnya engkau senantiasa berada dalam pengawasan mata Kami. [Ath-Thûr/52: 48]
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
Allâh Maha mengetahui mata yang berkhianat dan Maha mengetahui apa yang disembunyikan oleh dada. [Ghâfir/40:19]
Apabila pengertian-pengertian seperti yang terkandung pada nash-nash di atas selalu dipahamkan kepada kita dan anak-anak semenjak dini, maka -bi idznillâh- mereka akan menjadi hamba-hamba Allâh yang khusyu’, bertaqwa, ikhlas dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Imam Ibnu al-Qayyim telah menjelaskan bahwa murâqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla , merupakan asas bagi semua amalan hati dan merupakan tiang bagi semua amalan hati. Sikap tenang dan khusyu’ dalam menjalankan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ,
berpangkal pada murâqabah ini. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikan semua pokok dan semua cabang amalan hati terangkum pada satu kalimat (yang intinya adalah murâqabah),
yaitu sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .رواه البخاري عن أبى هريرة، و مسلم عن أبى هريرة و عن عمر رضي الله عنهما
(Ihsan ialah) apabila engkau beribadah kepada Allâh seakan-akan engkau melihatNya. Maka apabila engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allâh melihatmu.
[HR. Al-Bukhâri dari Abu Hurairah dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma dan Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu].
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah menegaskan,
semakin kuat murâqabah seseorang, maka akan semakin menimbulkan rasa malu, rasa tenang, rasa cinta, tunduk, khusyu’, takut dan pengharapan yang besar kepada Allâh.Ini tidak akan diperoleh jika tidak ada muraqabah, rasa selalu diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla .
Sikap tenang dalam melaksanakan tugas ibadah, itulah yang mendatangkan ketundukan, kekhusyu’an, konsenterasi dan terhimpunnya hati ketika beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla .
Dari sinilah seseorang akan dapat menyelaraskan antara hati dan anggota badannya dalam menunaikan ibadah. Kekhusyu’an merupakan hasil dari ketenangan. Khusyu’nya anggota badan adalah hasil dari khusyu’nya hati.
Maka menjadi sangat penting mendidik anak-anak kaum Muslimin memiliki jiwa murâqabah dan selalu merasa diawasi tindak-tanduknya oleh al-Khâliq Subhanahu wa Ta’ala agar kelak anak-anak tersebut menjadi terlatih serta terbiasa khusyu’, ikhlas dan bertanggung jawab dalam beribadah.
Untuk itu, perlu semenjak sekarang untuk tidak menunda lagi upaya memahamkan pengertian-pengertian di atas hingga bitaufîqillah, terwujudlahcita-cita masa depan yang sukses di dunia maupun di akhirat. Sebab rasamurâqabahini sudah benar-benar tertanamsecara mendalam pada jiwa setiap insan.
Sehingga lahirlah generasi yang bertaqwa, ikhlas, jujur, amanah dan mementingkan ibadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla semata.Akhirnya menjadi damailah kehidupan dunia, menjadi damai pula kehidupan akhirat yang sesungguhnya merupakan tujuan hakikibagi kehidupan manusia di dunia ini.
bahkan ada seorang tokoh islam yg menghimpunya dalam zikir singkat.
Shohibul Fadilah Al-'Allamah Asy-Syaikh Umar Al-Faruqi pernah berpesan kepada keponakannya 3 kalimat yang harus ditanamkan dalam jiwanya sebelum yang lain. Kalimat-kalimat tersebut adalah:
1. Allahu Ma'i (Allah bersamaku)
2. Allahu Syahidi (Allah menyaksikanku)
3. Allahu Nadirun Ilayya (Allah selalu melhat diriku)
Syaikh Umar tidak memberi bekal sesuatu apapun kecuali 3 kalimat tersebut. Dengan memahami makna yang terkandung dalam kalimat-kalimat tersebut, maka kita akan merasa malu untuk bermaksiat kepada Allah. Karena setiap gerak-gerik kita akan selalu terpantau oleh Allah. Dengan demikian, hal itu bisa menghantarkan kita menjadi Islam yang Kaffah seperti yang diharapkan dalam Al-Qur'an..Kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnasi ta'muruna bil makruf, watanhauna 'anil munkar.
Marilah kita tanamkan pesan beliau dalam jiwa kita masing agar kita selalu mendapat Ridho-Nya dalam menjalani kehidupan ini.
Semoga bermanfaat…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar